This site can be viewed only with Internet Explorer ver. 7.0 above. /
Indonesia approves IDR 14T east Palapa Ring network concession

// Biaya logistik naik 20%

JAKARTA Harga minyak dunia yang sempat menembus US$100 per barel turut mengerek biaya logistik di dalam negeri yang diperkirakan naik 20% pada tahun ini. Di sisi lain, kebijakan pembatasan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi yang direncanakan berlaku akhir Maret 2011 ikut mendongkrak biaya pengiriman dan distribusi barang lebih tinggi dibandingkan dengan tarif rata-rata tahun lalu. Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Jasa Ekspres Indonesia (Asperindo) M. Kadrial mengungkapkan perusahaan logistik yang menggunakan armada berpelat hitam akan terkena dampak yang signifikan dari kenaikan harga minyak dunia dan pembatasan BBM bersubsidi. “Biaya logistik perusahaan yang menggunakan kendaraan pelat hitam bisa meningkat antara 15%-20% terutama untuk pengiriman domestik,” ujarnya kepada Bisnis kemarin. Kadrial menjelaskan jika pembatasan subsidi BBM diberlakukan kepada perusahaan logistik dan jasa ekspres berpelat hitam, perusahaan tersebut terpaksa menggunakan bahan bakar non-subsidi yang saat ini harganya mencapai Rp8.500 per liter,terdongkrak harga minyak dunia. “Dari situ, biaya operasional bisa melonjak hingga dua kali lipat sehingga total biaya logistik ikut meningkat,” ujarnya. Presiden Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Masita mengatakan yang paling terkena dampak lonjakan harga minyak dunia dan pembatasan BBM bersubsidi adalah perusahaan logistik dan pengguna jasa. “Karena biaya logistik meningkat, otomatis perusahaan logistik juga akan menaikkan tarif sehingga yang terkena dampaknya juga konsumen,” paparnya. Daya beli Meski demikian Zaldy menjelaskan perusahaan logistik tidak dapat membebankan seluruh peningkatan biaya kepada konsumen. Kata dia, pihak produsen akan memperhitungkan daya beli konsumen dan tidak memperbolehkan kenaikan tarif terlalu tinggi. “Akibatnya akan ada biaya yang tidak tertutup dan perusahaan logistik akan menyiasatinya dengan berbagai cara, seperti pengurangan SDM dan penurunan kualitas keamanan barang,” tambahnya. Menurut Zaldy, perusahaan logistik berpotensi menaikkan tarif hingga lebih dari 10% pada tahun ini. Mo-mentum kebijakan pembatasan BBM bersubsidi akan digunakan sebagai alasan untuk menaikkan tarif pada 2011. “Tahun lalu BBM memang tidak naik, tapi kondisi logistik kita parah sekali karena infrastruktur yang tidak mendukung sehingga ongkos logistik sudah meningkat dari tahun lalu. Jadi saya rasa tahun ini perusahaan logistik akan ramai-ramai menaikkan tarif,” ujarnya. Zaldy mengatakan jika pemerintah tidak memberikan pengecualian kepada pengusaha logistik terkait pembatasan BBM bersubsidi, maka perusahaan logistik yang tergolong usaha kecil menengah (UKM) kemungkinan akan banyak yang gulung tikar. “Bagi UKM yang rata-rata memiliki armada sedikit dan pasar yang tidak begitu besar pembatasan subsidi BBM ini merupakan pukulan berat dan bisa menyebabkan mereka tutup usaha,” terangnya. Meski demikian, dari segi pelaku, Zaldy optimistis usaha logistik tetap akan tumbuh sekitar 15%. Adapun potensi pendapatan di sektor logistik provider, menurut dia, rata-rata bernilai sekitar Rp2 triliun-Rp3 triliun per tahun. (redaksi bisnis, co. id)