This site can be viewed only with Internet Explorer ver. 7.0 above. CAREER / SITEMAP

// Cetak biru logistik dinilai tidak relevan

JAKARTA Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) menilai pengesahan cetak biru logistik nasional sudah terlambat sehingga tidak relevan lagi saat ini.

Menurut Presiden ALI Zaldy Masita, sudah sulit bagi pelaku logistik dan pemerintah untuk dapat merealisasikan poin-poin di dalam cetak biru logistik nasional mengingat pengesahan cetak biru tersebut sudah ditargetkan sejak 2 tahun yang lalu.

“Isi dari” cetak biru tersebut adalah asumsi-asumsi yang rencananya kita jalankan pada 2009, melihat pada kondisi ekonomi dan infrastruktur negara,” ujarnya kepada Bisnis kemarin.

Zaldy menjelaskan saat ini realisasi pengesahan cetak biru logistik sudah terlambat 2 tahun. Akibatnya, kata dia, isi dari cetak biru tersebut ketika disahkan nanti bisa jadi sudah tidak relevan dengan kondisi logistik nasional saat ini.

“Jika nanti akhirnya cetak biru tersebut sudah disahkan, pelaku logistik dan pemerintah perlu mengkaji ulang poin-poin mana yang masih bisa dilaksanakan dan mana yang sudah tidak relevan dengan kondisi pada saat itu,” paparnya.

Menurut Zaldy, untuk pembangunan infrastruktur tidak bisa dilakukan dalam waktu singkat, butuh maksimal 2 tahun pengerjaan.

Saat ini sudah tidak ada waktu untuk pemerintah dapat membangun infrastruktur sesuai dengan cetak biru logistik, karena poin-poin di dalamnya direncanakan untuk dapat selesai pada 2011.

Zaldy mengatakan draf cetak biru logistik sudah berada di Sekretariat Negara (Sekneg) untuk menunggu pengesahan dari Presiden. Cetak biru tersebut tertahan 6 bulan di Sekneg tanpa alasan yang jelas.

“Dari Menko sendiri sebenarnya sudah menyerahkan ke Sekneg, yang mentok ini di Seknegnya,” tuturnya.

Konsultan Transportasi dan Logistik Lembaga Riset Frost Sullivan Indonesia Muhammad Asrofi mengatakan desakan segera disahkannya cetak bim logistik nasional sudah begitu kuat, mengingat biaya logistik dan .ikm na- logistik di Indonesia sangat tidak efisien dibandingkan dengan negara lain.

Asrofi menilai, jika Indonesia tidak segera membenahi infrastruktur untuk mendukung aktivitas logistik, sangat mungkin banyak perusahaan besar yang memindahkan pabriknya ke negara di sekitar indonesia karena mahalnya ongkos logistik di sini.

“Perusahaan besar akan memilih punya pabrik di Singapura dan kemudian menjual barangnya dengan cara ekspor ke Indonesia karena biaya logistik kii.i terlalu mahal.” Paparnya.

(redaksi bisnis, co. id)

Copyright © 2012 PT. Mitra Intertrans Forwarding (MIF)